Rabu, 22 Juli 2026

Aku sering bertanya kepada waktu,

mengapa ia mempertemukan kita
jika pada akhirnya
ia sendiri yang paling ingin memisahkan.

Bukankah lebih mudah
andai sejak awal
aku tak pernah mengenal matamu?

Dengan begitu,
aku tak perlu belajar
betapa rindunya seseorang
kepada tempat
yang tak lagi bisa ia pulangi.

Kita pernah saling menemukan

pada waktu yang terasa begitu ramah.

Aku mengira,

itulah cara semesta berkata,

"Tinggallah lebih lama."

Nyatanya,

ia hanya sedang mengajarkan

betapa cepat sesuatu

dapat berubah menjadi kenangan..


Kecewa? Mungkin..

Pada suatu hari
yang bahkan langit lupa mencatatnya,
aku memutuskan berhenti
menjadi seseorang
yang selalu berharap kau menoleh..

Bukan karena aku tak lagi mencintaimu.

Justru karena cintaku
terlalu lama hidup
di tempat yang tak pernah menganggapnya ada.

Aku pernah berpikir
bahwa kesabaran
akan mengubah arah langkahmu..

Aku keliru,

Ternyata ada hati
yang tidak bisa dimenangkan
sekeras apa pun seseorang bertahan.

Maka aku mulai mengemasi
hal-hal kecil tentangmu.

Tawamu yang dulu mampu menghidupkan pagi..

Namamu
yang diam-diam kusebut
setiap kali doa terasa sepi..

Dan segala kemungkinan
yang hanya tumbuh
di kepalaku sendiri..

Tidak mudah..

Ada bagian dari diriku
yang berkali-kali ingin kembali,
meski tahu
aku hanya akan mengulang
luka yang sama
dengan cara yang berbeda..

Barangkali itulah yang disebut kecewa.

Bukan ketika kau memilih orang lain.

Melainkan ketika aku sadar
bahwa seluruh usahaku
tak pernah benar-benar menjadi alasan
bagimu untuk tinggal. ~

Barangkali, Aku Memang Tak Pernah Dituju

Tidak ada yang lebih melelahkan
daripada menjadi seseorang
yang selalu datang
tetapi tak pernah benar-benar dinanti..

Aku belajar mengerti
bahwa namaku hanya singgah
di sela-sela kesepianmu,
bukan di dalam rencana hidupmu..

Kau tahu,
aku pernah menganggap
setiap perhatianmu adalah rumah.
Ternyata itu hanya tempat berteduh
yang kau buka setiap kali hujan turun..

Lucu yaa..
Yang paling tulus
justru paling sering belajar mengalah.
Yang paling sabar
justru paling sering ditinggalkan..

Aku tidak marah kepadamu.
Barangkali cintamu memang bukan untukku..

Yang sulit kuterima adalah kenyataan
bahwa seluruh perasaanku
tak pernah memiliki kesempatan
untuk diperlakukan setara..

Hari ini aku memilih pergi.
Bukan karena cintaku habis,
melainkan karena ia terlalu lama
berdiri sendirian..

Aku ingin menyelamatkan
sisa-sisa diriku
yang masih percaya
bahwa mencintai
tidak seharusnya membuat seseorang
terus-menerus merasa kurang..

Jika suatu hari
kau menyadari kepergianku,
jangan mengira aku menyerah.
Aku hanya akhirnya mengerti
bahwa ada cinta
yang tidak ditakdirkan untuk dimiliki,
dan ada perpisahan
yang lahir bukan karena benci,
melainkan karena seseorang
terlalu lama mencintai sendirian.. ~

Yang Pergi Tanpa Menang


Pada akhirnya
aku memilih menjadi langkah
yang menjauh dari halamanmu,

bukan karena tak lagi ingin tinggal,
melainkan karena pintu itu
tak pernah sungguh-sungguh terbuka.

Aku pernah percaya cinta cukup sabar
untuk menunggu keadilan tiba.
Namun waktu hanya pandai
mengajari seseorang bertahan,
bukan selalu untuk dipilih..

Ada yang kau peluk
dengan segala kepastian,
sementara aku hanya kau sisakan
sebagai musim
yang boleh datang
asal tak menetap..

Maka kubawa pulang
segala yang tak sempat menjadi kita:
percakapan yang menggantung,
harapan yang diam-diam tumbuh,
dan namamu
yang perlahan belajar
menjadi kenangan...

Jangan mencariku
di tempat-tempat yang pernah kita yakini.
Aku telah meninggalkan diriku yang dulu..

Aku yang mengira
mencintai dengan sungguh-sungguh
akan selalu mendapat tempat.

Kini aku pergi...
Bukan untuk membuatmu kehilangan,
melainkan agar aku tak lagi kehilangan
diriku sendiri..

Barangkali begitulah cinta
menyelesaikan ketidakadilannya:
bukan dengan membuat semua orang bahagia,
tetapi dengan mengajarkan seseorang
bahwa ada saatnya
kepergian adalah bentuk terakhir
dari kasih yang masih menjaga harga dirinya. :')


  ~aku dalam hening malam, Rabu 22 Juli 2026,  21.22 wib~

Jumat, 08 Agustus 2025

Rindu Yang Tidak Tumbuh Jadi Kita


Hai kamu,
yang pernah jadi tempat pulang paling kutunggu.

Apa kabar?
Semoga kamu bahagia, meski tak lagi bersamaku.
Aku menulis ini bukan untuk mengganggu, apalagi memaksa kembali.
Aku hanya ingin menyampaikan rindu yang tidak sempat tumbuh…
jadi “kita”.

Dulu, kita pernah saling percaya.
Kamu di sana, aku di sini.
Jarak bukan masalah saat hati saling ingin.
Tapi lambat laun, aku tahu kamu lelah.
Kamu ingin aku lebih dekat, lebih nyata,
bisa hadir di hari-harimu yang berat.
Dan aku, tak mampu mewujudkan itu.

Kita mulai bertengkar.
Bukan karena tak cinta,
tapi karena terlalu banyak hal yang tak bisa kita sentuh.
Aku tahu kamu ingin lebih dari sekadar pesan malam dan panggilan suara.
Dan ketika aku tak bisa memenuhi keinginan itu,
perlahan kamu menjauh.
Hingga akhirnya pergi.

Sejak itu, aku belajar melepaskan.
Bukan karena berhenti mencintaimu,
tapi karena aku tahu…
rindu yang hanya tumbuh dari satu sisi
tak akan pernah cukup untuk membentuk “kita”.

Kini aku tak lagi menunggumu,
tapi bukan berarti aku lupa.
Aku hanya belajar merawat kenangan tanpa berharap kembali.

Terima kasih sudah pernah jadi seseorang yang kucinta sepenuh hati.
Dan maaf, karena rindu ini tak cukup kuat untuk menahanmu tetap tinggal.

Yang dulu ingin tumbuh bersamamu,
Aku.. :')

By: YL

Kala Itu :)


Kala itu,
waktu seperti sahabat yang setia.
Ia membawa kita pada pagi yang saling,
dan senja yang tak ingin cepat usai.

Tapi waktu tak pernah berjanji akan tinggal.
Ia hanya lewat—
menitipkan detik yang tak bisa diulang.

Kini aku hanya punya diam,
dan ingatan yang tak mau pulang.

Segalanya sudah pergi,
kecuali kenangan,
yang masih tinggal
di relung-relung yang tak sempat aku kunci.