Jumat, 08 Agustus 2025

Rindu Yang Tidak Tumbuh Jadi Kita


Hai kamu,
yang pernah jadi tempat pulang paling kutunggu.

Apa kabar?
Semoga kamu bahagia, meski tak lagi bersamaku.
Aku menulis ini bukan untuk mengganggu, apalagi memaksa kembali.
Aku hanya ingin menyampaikan rindu yang tidak sempat tumbuh…
jadi “kita”.

Dulu, kita pernah saling percaya.
Kamu di sana, aku di sini.
Jarak bukan masalah saat hati saling ingin.
Tapi lambat laun, aku tahu kamu lelah.
Kamu ingin aku lebih dekat, lebih nyata,
bisa hadir di hari-harimu yang berat.
Dan aku, tak mampu mewujudkan itu.

Kita mulai bertengkar.
Bukan karena tak cinta,
tapi karena terlalu banyak hal yang tak bisa kita sentuh.
Aku tahu kamu ingin lebih dari sekadar pesan malam dan panggilan suara.
Dan ketika aku tak bisa memenuhi keinginan itu,
perlahan kamu menjauh.
Hingga akhirnya pergi.

Sejak itu, aku belajar melepaskan.
Bukan karena berhenti mencintaimu,
tapi karena aku tahu…
rindu yang hanya tumbuh dari satu sisi
tak akan pernah cukup untuk membentuk “kita”.

Kini aku tak lagi menunggumu,
tapi bukan berarti aku lupa.
Aku hanya belajar merawat kenangan tanpa berharap kembali.

Terima kasih sudah pernah jadi seseorang yang kucinta sepenuh hati.
Dan maaf, karena rindu ini tak cukup kuat untuk menahanmu tetap tinggal.

Yang dulu ingin tumbuh bersamamu,
Aku.. :')

By: YL

Kala Itu :)


Kala itu,
waktu seperti sahabat yang setia.
Ia membawa kita pada pagi yang saling,
dan senja yang tak ingin cepat usai.

Tapi waktu tak pernah berjanji akan tinggal.
Ia hanya lewat—
menitipkan detik yang tak bisa diulang.

Kini aku hanya punya diam,
dan ingatan yang tak mau pulang.

Segalanya sudah pergi,
kecuali kenangan,
yang masih tinggal
di relung-relung yang tak sempat aku kunci.

Waktu yang Kini Jadi Kenangan


Dulu,
kita berjalan berdampingan,
membagi tawa, menit, dan diam yang tak pernah sia-sia.

Kini,
jejak langkahmu hanya tinggal gema,
di lorong-lorong waktu yang enggan kembali.

Segala yang hangat telah membeku,
menjadi kisah yang hanya bisa kusentuh lewat rindu.

Waktu…
telah berubah menjadi kenangan,
dan aku,
masih tinggal di antaranya—
mencari bayangmu di antara detik yang tak pernah menunggu.